bni sekuritas
BNI Sekuritas

Siaran Pers

Kompetisi BIONS Cuanpionship #3 Masuki Bulan Kelima, 24 Nasabah Jadi Pemenang Bulanan

detail info

Jakarta, 18 Juli 2024 - Kompetisi trading saham BIONS Cuanpionship #3 yang diselenggarakan oleh PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) melewati bulan keempat dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Terbukti, sejak dimulai pada Maret 2024, sebanyak 24 Nasabah telah berhasil meraih gelar juara bulanan, membawa pulang hadiah dengan total lebih dari Rp130 juta dalam bentuk saham BBNI.

Memasuki bulan kelima, kompetisi ini semakin menarik dengan penawaran total hadiah bulanan yang lebih besar dan hadiah Grand Prize termasuk IONIQ 5, Wuling Bingou EV, Royal Enfield Classic 350 M/T, Yamaha R25 ABS, Kawasaki Ninja 250, Vespa Primavera, juga ratusan juta saham BBNI.

SEVP Retail Markets & Technology BNI Sekuritas Teddy Wishadi, menyampaikan bahwa kompetisi BIONS Cuanpionship #3 telah menarik perhatian para Nasabah BIONS (BNI Sekuritas Innovative Online trading Systems) sejak resmi diluncurkan pada akhir Februari 2024. Selain total hadiah hingga Rp2 miliar yang ditawarkan, antusias yang datang dipercaya disebabkan oleh variasi kategori yang ada. BIONS Cuanpionship #3 memiliki 3 kategori yaitu Legendary, Victory, dan Fantasy.

"Sejak dilaksanakan untuk ketiga kalinya, BIONS Cuanpionship terus meningkatkan tantangan dan melakukan penyesuaian untuk memenuhi kebutuhan Nasabah, termasuk opsi partisipasi kelompok dalam kategori Fantasy. Kompetisi ini bertujuan memberikan wadah bagi Nasabah untuk mengembangkan keterampilan trading saham mereka serta pertumbuhan aset pribadi. Melalui inovasi-inovasi ini, kami berharap setiap Nasabah BNI Sekuritas dapat meraih kesuksesan dalam kompetisi ini dan mencapai kemerdekaan finansial di masa depan," tambah Teddy.

Melalui kompetisi trading saham seperti BIONS Cuanpionship, BNI Sekuritas secara aktif berperan dalam mendukung target Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tahun 2024, yang mencakup penambahan 2 juta investor baru dan pencapaian Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) sebesar Rp12,25 triliun. BIONS Cuanpionship terbukti memberikan kontribusi peningkatan sebesar lebih dari 30% terhadap total transaksi harian Nasabah, memberikan pencapaian nilai transaksi lebih dari 167% dibandingkan target awal penyelenggaraan, dan memberikan pertumbuhan rata-rata nilai transaksi bulanan peserta hingga 287% selama periode kompetisi.

Selain BIONS Cuanpionship, BNI Sekuritas juga aktif membantu para Nasabah melalui berbagai program edukasi dan literasi seperti rekomendasi saham harian dari para analis terbaik BNI Sekuritas melalui program Morning Investview yang disiarkan live melalui Instagram dan YouTube BNI Sekuritas setiap hari Senin hingga Jumat pukul 08.15 WIB, dan kegiatan Live Trading bersama Tim Riset Retail BNI Sekuritas melalui zoom setiap Senin dan Kamis. Nasabah juga dapat berkonsultasi seputar portfolio secara eksklusif dengan mengikuti program Klinik Saham (coaching clinic) BNI Sekuritas. Sejak tahun 2022, BNI Sekuritas telah mengadakan 46 kali Sekolah Pasar Modal (SPM), melibatkan sekitar 2.000 peserta," tutup Teddy.

Bagi Nasabah BIONS atau calon Nasabah yang ingin mengikuti BIONS Cuanpionship #3 dapat melakukan registrasi untuk menjadi Cuanpions individu atau kelompok melalui aplikasi BIONS atau melalui link cuanpionship.bions.id. Setiap minggunya BNI Sekuritas akan memberikan informasi peringkat hingga pemenang bulanan melalui media sosial Instagram @bnisekuritas46 atau melalui cuanpionship.bions.id.

####SELESAI####

Informasi Lainnya

Kenali Saham Dividen, Pendekatan Lebih Ramah Bagi Investor Pemula
Siaran Pers

Kenali Saham Dividen, Pendekatan Lebih Ramah Bagi Investor Pemula

Jakarta, 2 Juli 2026 - Pergerakan IHSG yang naik turun dalam beberapa waktu terakhir kembali menunjukkan bahwa pasar saham bergerak dalam siklus yang tidak selalu mudah diprediksi. Dalam kondisi pasar yang yang berfluktuasi, Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas Teddy Wishadi, menilai saham dividen dapat menjadi salah satu pendekatan yang lebih ramah bagi investor pemula. “Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi investor tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham, tetapi juga mendapatkan penghasilan tunai secara berkala,” ujar Teddy. Ia menambahkan, beberapa saham dividen dapat menawarkan dividen yield yang berada di kisaran 3%–6% per tahun, investor tetap bisa memperoleh imbal hasil meskipun pergerakan harga saham tidak terlalu signifikan., sehingga saham dividen lebih mudah dipahami karena tidak hanya bergantung pada pergerakan harga, sekaligus membantu mengurangi tekanan psikologis investor di tengah kondisi pasar yang fluktuatif. Namun, Teddy menekankan bahwa karakter saham dividen tidak seragam. “Ada emiten yang memiliki pembagian dividen relatif stabil karena rekam jejak bisnis yang solid serta arus kas yang sehat. Contohnya seperti BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI di sektor perbankan, serta Indofood CBP Sukses Makmur di sektor konsumsi,” jelasnya. Sementara itu, sektor komoditas seperti Bukit Asam (PTBA) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) cenderung memiliki pola dividen lebih fluktuatif karena dipengaruhi oleh siklus harga komoditas. Adapun Telkom Indonesia berada di posisi relatif seimbang, dengan riwayat pembagian dividen relatif konsisten dan potensi pertumbuhan bisnis jangka panjang. Teddy juga mengingatkan investor pemula untuk memahami mekanisme pembagian dividen, yaitu cum date, ex-date, recording date, dan payment date. Cum date merupakan hari terakhir investor dapat membeli saham dan tetap berhak atas dividen yang akan dibagikan. Setelah memasuki ex-date, investor yang baru membeli saham tidak lagi berhak memperoleh dividen tersebut. Sementara itu, recording date adalah tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima dividen, sedangkan payment date merupakan tanggal pembayaran dividen kepada investor yang berhak. Ia menambahkan, “musim dividen” di pasar saham Indonesia umumnya berlangsung setelah pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang banyak diselenggarakan pada periode Maret hingga Juni, sehingga periode April hingga Juli biasanya menjadi periode banyak emiten mengumumkan dan membagikan dividen. Dalam praktiknya, investor umumnya menerapkan dua strategi sederhana dalam berinvestasi pada saham dividen, yaitu buy and hold pada saham-saham yang memiliki fundamental baik, serta melakukan reinvestasi dividen untuk menambah kepemilikan saham secara bertahap. “Pendekatan ini membuat investor tidak terlalu bergantung pada pergerakan jangka pendek IHSG, sehingga lebih fokus pada kepemilikan jangka panjang,” ujar Teddy. Menurut Teddy, saham dividen tidak menghilangkan risiko investasi, namun dapat membantu investor membangun portofolio yang lebih seimbang melalui kombinasi potensi capital gain dan arus kas yang berasal dari dividen.

Panduan untuk Investor Pemula: Ini Arti Foreign Flow bagi Keputusan Berinvestasi
Siaran Pers

Panduan untuk Investor Pemula: Ini Arti Foreign Flow bagi Keputusan Berinvestasi

Jakarta, 29 Juni 2026 - Pergerakan IHSG dalam beberapa waktu terakhir masih diwarnai aksi jual investor asing, dengan net sell sebesar Rp5,98 triliun pada periode 8–12 Juni 2026. Kondisi ini sering memunculkan pertanyaan: apakah keluarnya dana asing berarti pasar akan otomatis melemah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, investor perlu terlebih dahulu memahami apa itu foreign flow dan bagaimana data ini sebaiknya digunakan dalam membaca kondisi pasar. Foreign flow adalah data yang mencatat arus masuk dan keluar dana investor asing di pasar saham. Data ini menunjukkan aktivitas investor global di Bursa Efek Indonesia, namun bukan digunakan untuk memprediksi arah harga secara langsung. Menurut Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas Teddy Wishadi, foreign flow lebih tepat dipahami sebagai konteks pasar. “Foreign flow menunjukkan arus dana investor asing yang masuk, keluar, atau mengalami penyesuaikan posisi. Tapi ini bukan sinyal untuk langsung beli atau jual saham,” ujarnya. Dalam membaca foreign flow, dua istilah yang paling sering digunakan adalah Net Buy dan Net Sell. Net Buy menunjukkan asing lebih banyak membeli saham dibanding menjual, yang bisa mendukung penguatan tren jika sejalan dengan harga dan volume. Sebaliknya, Net Sell menunjukkan lebih banyak penjualan, yang bisa mencerminkan pengurangan risiko, namun tidak selalu berarti harga akan turun karena pasar juga digerakkan investor domestik. “Dalam praktiknya, IHSG tidak selalu bergerak searah dengan foreign flow. Pasar bisa naik saat asing net sell atau sebaliknya, tergantung kondisi sektor, sentimen domestik, dan faktor makroekonomi. Karena itu, foreign flow lebih tepat digunakan sebagai indikator tambahan, bukan dasar utama keputusan investasi,” jelas Teddy. Teddy juga menambahkan, sebagai contoh, pada awal hingga pertengahan 2026, pasar beberapa kali mencatat net sell asing, termasuk Rp5,98 triliun pada 8 – 12 Juni 2026. Meski begitu, IHSG masih dapat bertahan atau bergerak sideways di beberapa fase berkat dukungan investor domestik, menunjukkan bahwa foreign flow bukan penentu tunggal arah pasar. Oleh karena itu, penting bagi investor, terutama pemula untuk dapat mengakses dan memahami informasi foreign flow dengan baik sebagai bagian dari proses analisis pasar. Salah satu cara yang dapat membantu adalah menggunakan platform berinvestasi lengkap yang menyediakan data tersebut secara ringkas, terstruktur, dan mudah dibaca. Seperti pada aplikasi BIONS by BNI Sekuritas, terdapat fitur Foreign Summary. Fitur ini bisa dimanfaatkan investor untuk mendapatkan rangkuman Foreign Buy, Foreign Sell, Net Buy, dan Net Sell dalam satu tampilan yang sederhana dan terstruktur, sehingga investor dapat memantau pergerakan dana asing secara lebih cepat dan efisien.

Saham Perbankan Terkoreksi Dalam, BNI Sekuritas Lihat Peluang di Tengah Tekanan Makro
Siaran Pers

Saham Perbankan Terkoreksi Dalam, BNI Sekuritas Lihat Peluang di Tengah Tekanan Makro

Jakarta, 15 Juni 2026 – Tekanan jual investor asing yang mencapai sekitar Rp75 triliun secara year-to-date menjadi salah satu faktor utama koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari level 6.200 ke 5.300 dalam beberapa waktu terakhir. Demikian disampaikan Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas. Fanny menjelaskan bahwa tekanan jual bersih (net sell) investor asing terkonsentrasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI. Meskipun dalam beberapa hari terakhir harga saham-saham perbankan mulai kembali menguat dan turut mendorong pemulihan IHSG, secara keseluruhan koreksi yang terjadi dinilai cukup signifikan. Berdasarkan data RTI per 10 Juni 2026, secara year-to-date saham BBCA telah terkoreksi 30%, BBRI 21%, BMRI 16%, dan BBNI 21%. Menurut BNI Sekuritas, koreksi pada harga saham perbankan lebih didorong oleh faktor makro, seperti pelemahan nilai tukar Rupiah dibandingkan oleh faktor fundamental perbankan itu sendiri. Dalam upaya mengatasi pelemahan Rupiah, Pemerintah telah mengambil berbagai langkah, salah satunya melalui kenaikan BI Rate sebesar 75 bps secara kumulatif, yakni 50 bps pada 20 Mei dan 25 bps pada 9 Juni 2026. Paska kenaikan tersebut, Rupiah cenderung kembali menguat ke bawah level Rp18.000, yang turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan IHSG. Di tengah lingkungan suku bunga tinggi (higher rate environment) saat ini, BNI Sekuritas menilai bank yang paling diuntungkan berdasarkan analisis sensitivitas adalah BBCA, dengan target valuasi di level Rp8.700. Apabila nilai tukar Rupiah cenderung menguat ke depan, sektor perbankan dapat menjadi pilihan investasi yang menarik. Koreksi harga saham perbankan yang terjadi belakangan ini telah mendorong 1-year forward dividend yield naik ke level multi-year high, dengan BMRI, BBRI, dan BBNI menawarkan yield sekitar 11–12%, sementara BBCA berada di sekitar 6,4%, keduanya di atas rata-rata historis normal. "Secara teknikal, IHSG akan berupaya kembali menembus level 6.000. Namun apabila gagal melampaui resistance kuat di level tersebut, IHSG masih berpeluang untuk kembali terkoreksi ke kisaran 5.400–5.750. Sebaliknya, apabila IHSG berhasil break di atas 6.000 dan ditopang oleh masuknya aliran dana asing (foreign inflow), terdapat peluang bagi IHSG untuk bergerak menuju level 6.250–6.600," tutup Fanny. ###SELESAI###