bni sekuritas
BNI Sekuritas

Siaran Pers

BNI Sekuritas Market Outlook 2024: Prospek dan Tantangan Pasar Keuangan Indonesia

detail info

Jakarta, 21 Desember 2023 - PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) merilis laporan Market Outlook 2024. Berdasarkan laporan tersebut, tahun 2023 telah membawa tantangan besar bagi pasar keuangan global, dimana dunia harus beradaptasi dengan kehidupan pasca pandemi Covid-19. Seiring perubahan yang terjadi, tahun 2023 dianggap menjadi awal dari penyesuaian diri terhadap kondisi yang baru. Sedangkan, tahun 2024 dianggap sebagai tahun normalisasi.

SEVP Research BNI Sekuritas Erwan Teguh mengungkapkan bahwa pada tahun 2023, gejolak ekonomi diwarnai oleh ketidakpastian. Stimulus ekonomi dari era pandemi mendorong pergerakan di pasar investasi, namun ketakutan akan resesi menjadi fokus bersama, terutama terkait kebijakan suku bunga AS yang menurun di tengah risiko inflasi yang begitu mengkhawatirkan.

Erwan menambahkan bahwa pada bulan Maret 2023 fluktuasi risiko terlihat pada bank-bank kelas menengah AS, yang menambah kekhawatiran pasar. China juga mengalami kesulitan dalam pemulihan ekonominya meskipun telah membuka kembali perekonomian lebih awal dari yang diperkirakan. Namun, pada paruh kedua tahun 2023, sentimen mulai membaik dengan harapan pasar beralih dari stagflasi ke narasi "soft landing", meskipun kemudian terdapat kekhawatiran bahwa suku bunga kemungkinan akan berada di level yg tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Sementara itu, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam beradaptasi dengan lingkungan pasca pandemi. Penurunan tajam dalam harga komoditas utama dan lonjakan harga beras menjadi penghambat utama, yang memaksa bank sentral untuk meningkatkan suku bunga pada Oktober 2023 secara tak terduga. Namun, pada November 2023, Bank Indonesia menghentikan kenaikan suku bunga karena stabilnya nilai tukar Rupiah yang menguat sekitar 2,5% secara bulanan.

Proyeksi Tahun 2024

Memasuki tahun 2024, optimisme pasar akan kembali naik. Kekhawatiran terhadap inflasi dan resesi mulai mereda, dengan proyeksi pertumbuhan yang diharapkan akan kembali normal seiring dengan tren sebelum pandemi.

“China tetap menjadi perhatian khusus dengan banyaknya konsensus yang pesimis terkait risiko sektor properti, tantangan demografis, dan restrukturisasi rantai pasokan global. Meskipun demikian, hubungan AS-China mungkin telah mencapai titik terendahnya, dan risiko tinggi geopolitik tercermin dalam konflik Israel-Gaza yang berpotensi meluas,” ungkap Erwan.

Pertumbuhan PDB Indonesia juga diperkirakan kembali ke normalisasi sekitar 5%, dengan risiko inflasi yang mungkin meningkat karena fenomena cuaca El-Nino. Namun, Tim makroekonomi kami memperkirakan Bank Indonesia akan melakukan pemotongan suku bunga sebesar 50 bps pada akhir 2024 sebagai langkah dalam mendukung pertumbuhan. Proyeksi pertumbuhan agregat laba bersih diperkirakan sebesar 8%/11% pada FY24F, didorong oleh sektor konsumen dan keuangan, dengan risiko penurunan masih berasal dari perusahaan komoditas.

Pasar Saham dan Politik Indonesia

Di sisi lain, BNI Sekuritas menilai bahwa IHSG akan hijau di tengah gejolak politik Indonesia mengingat akan terjadinya pesta demokrasi pada Februari 2024. Selama ini dampak politik dan pemilu Indonesia memberikan hasil positif, sehingga pasar dipercaya juga akan positif tapi penuh kehati-hatian. Di samping itu, fondasi yang kokoh dalam struktur negara serta dorongan global yang kuat menuju energi terbarukan dan/atau kendaraan listrik telah mengakibatkan banyak perusahaan yang berfokus pada tema tersebut mencari pendanaan dengan tepat waktu.

Harapan akan pemulihan dalam konsumsi dan dorongan investasi, bersama dengan pandangan bahwa pendapatan per kapita negara telah melampaui US$5k juga telah meningkatkan prospek pertumbuhan secara keseluruhan. Oleh karena itu, BNI Sekuritas percaya bahwa kegiatan seperti IPO dan upaya penggalangan dana lainnya akan terus berlangsung dengan semangat tinggi pada tahun 2024.

BNI Sekuritas memperkirakan potensi penurunan JCI (Indeks Harga Saham Gabungan) pada angka 6600, sementara potensi kenaikan bisa mencapai 8400. Hal ini terutama bergantung pada dua hasil keputusan dari Federal Reserve (Fed) terkait suku bunga. Pertama, tidak ada penurunan suku bunga, dan kedua, terjadi penurunan suku bunga yang berhasil mencegah terjadinya resesi di Amerika Serikat.

Strategi Posisi Investasi

Menghadapi tahun yang penuh dinamika ini, ada beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan untuk posisi investasi:

  1. Obligasi vs Saham: Obligasi mungkin akan terus mendominasi saham, dengan proyeksi total return sekitar 9% berdasarkan imbal hasil 10 tahun yang stabil di 6,65%. Saham seperti BBCA, TLKM, dan JSMR mungkin menjadi pilihan yang baik sebagai proxy obligasi.

  2. Komoditas: Meskipun terdapat risiko pada laba, valuasi dan arus kas yang kuat di sektor komoditas menawarkan keseimbangan risiko reward yang menguntungkan. Pilihan seperti ADRO & UNTR menjadi pilihan utama.

  3. Pemulihan Konsumsi dan Sektor Keuangan: Dalam konteks yang lebih luas, ASII juga masuk ke dalam pandangan positif jangka panjang mengenai prospek permintaan mobil dalam negeri. Dukungan fiskal yang lebih baik dan perbaikan prospek pekerjaan diharapkan mendukung pemulihan konsumsi domestik. Sektor keuangan dan konsumen seperti KLBF, LPPF, HMSP, dan BBRI diperkirakan akan memperoleh manfaat dari perbaikan ini.

Sebagai penutup, tahun 2024 akan menjadi tahun normalisasi di mana pasar keuangan global bergerak menuju stabilitas setelah masa penyesuaian yang intensif. Meskipun tantangan tetap ada, peluang untuk posisi investasi yang cerdas dan strategis masih tersedia. Kunci utamanya adalah fleksibilitas dan reaksi terhadap perubahan dinamika pasar yang terus berubah.

 

###SELESAI###

Informasi Lainnya

BNI Sekuritas Hadirkan SBR015 di New BIONS, Tawarkan Kupon Minimum hingga 6,85% per Tahun
Siaran Pers

BNI Sekuritas Hadirkan SBR015 di New BIONS, Tawarkan Kupon Minimum hingga 6,85% per Tahun

Jakarta, 5 Oktober 2026 – PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) kembali dipercaya Kementerian Keuangan Republik Indonesia menjadi salah satu mitra distribusi Surat Berharga Negara (SBN) Ritel. Kali ini, BNI Sekuritas menawarkan Savings Bond Ritel seri SBR015 yang dapat dipesan melalui platform digital New BIONS by BNI Sekuritas selama masa penawaran 28 September hingga 22 Oktober 2026. SBR015 ditawarkan dalam dua pilihan tenor. SBR015T2 memiliki tenor 2 tahun dengan kupon minimal 6.75% per tahun dan akan jatuh tempo pada 10 Oktober 2028. Sementara itu, SBR015T4 memiliki tenor 4 tahun dengan kupon minimal 6.85% per tahun dan akan jatuh tempo pada 10 Oktober 2030. Kupon SBR015 bersifat floating with floor, sehingga tingkat kupon dapat menyesuaikan perubahan BI-Rate pada periode penyesuaian, namun tidak dapat turun di bawah tingkat kupon minimum yang telah ditetapkan. Pemerintah menetapkan spread tetap sebesar 100 bps atau 1,00% untuk SBR015T2 dan 110 bps atau 1,10% untuk SBR015T4. Kedua seri dapat dipesan mulai dari Rp1 juta, dengan batas maksimum pemesanan sebesar Rp5 miliar untuk SBR015-T2 dan Rp10 miliar untuk SBR015-T4. SBR015 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, namun Investor dapat memanfaatkan fasilitas early redemption untuk mencairkan sebagian kepemilikannya sebelum jatuh tempo sesuai periode dan ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. Head of Retail Brokerage BNI Sekuritas, Rohma Fitri, mengatakan penunjukan ini menjadi wujud komitmen perusahaan dalam memperluas akses investasi yang aman bagi masyarakat. "Melalui SBR015, nasabah memiliki kesempatan untuk mengembangkan aset secara optimal melalui instrumen investasi yang aman dan stabil, sekaligus berkontribusi dalam mendukung pembangunan nasional," ujar Fitri. SBR015 menawarkan sejumlah keunggulan bagi investor ritel. Dari sisi keamanan, pembayaran pokok dan kupon dijamin oleh negara berdasarkan ketentuan undang-undang. Dari sisi imbal hasil, skema floating with floor kepastian tingkat kupon minimum sekaligus peluang memperoleh tingkat kupon yang lebih tinggi apabila BI-Rate meningkat. Dari sisi likuiditas, investor dapat mencairkan sebagian kepemilikannya sebelum jatuh tempo melalui fasilitas early redemption pada periode yang ditetapkan pemerintah. "Di tengah dinamika suku bunga, SBR015 memberikan kepastian sekaligus peluang. Nasabah terlindungi dari penurunan kupon, tetapi tetap berpeluang menikmati imbal hasil lebih tinggi jika BI Rate naik. Dengan nominal mulai Rp1 juta, SBR015 cocok sebagai sarana diversifikasi portofolio, baik bagi investor pemula maupun yang sudah berpengalaman," jelas Fitri. Nasabah dapat memilih salah satu maupun kedua seri sesuai tujuan keuangan dan jangka waktu investasinya.. SBR015T2 sesuai bagi investor yang membutuhkan dana dalam jangka menengah, sementara SBR015T4 menawarkan kupon minimal lebih tinggi untuk investasi yang lebih panjang. Berinvestasi SBR015 melalui New BIONS by BNI Sekuritas dapat dilakukan dalam empat langkah mudah. Pertama, buka Aplikasi New BIONS; nasabah baru dapat lakukan pembukaan rekening efek dan registrasi akun SBN terlebih dahulu. Kedua, pilih menu Fixed Income/Pendapatan Tetap lalu klik SBN dan pilih seri SBR015-T2 atau SBR015-T4. Ketiga, masukkan nominal pemesanan dan konfirmasi pesanan. Terakhir, selesaikan pembayaran menggunakan kode billing yang diterbitkan sebelum batas waktu pembayaran berakhir. Hasil penjualan SBR015 akan ditetapkan pada 26 Oktober 2026, dengan tanggal setelmen pada 28 Oktober 2026. Informasi lebih lanjut mengenai SBR015 dapat diakses melalui aplikasi New BIONS by BNI Sekuritas.

Belajar Saham, dari Modal Kecil hingga Berpikir Jangka Panjang
Siaran Pers

Belajar Saham, dari Modal Kecil hingga Berpikir Jangka Panjang

Situasi ekonomi memang sedang tidak pasti, tetapi kemudahan akses terhadap layanan digital memunculkan fenomena menarik di Indonesia. Salah satunya, terlihat dari semakin meningkatnya ketertarikan generasi muda untuk mengenal investasi sebagai bagian dari pengelolaan keuangan sejak dini. Dari ruang kelas hingga linimasa media sosial, utas mengenai saham, reksa dana, maupun instrumen investasi lainnya semakin banyak dikenal mahasiswa. Tren ini tercermin dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan hingga Agustus 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 17,6 juta Single Investor Identification (SID). Menariknya, lebih dari 54% di antaranya merupakan investor berusia di bawah 30 tahun. Ini menandakan anak-anak muda kini menjadi motor utama pertumbuhan investor pasar modal nasional. OJK bahkan secara khusus mendorong kelompok usia ini menjadi agen literasi keuangan agar mampu berinvestasi secara bijak sekaligus terhindar dari maraknya penipuan berkedok investasi di media sosial. Namun, meningkatnya jumlah investor muda tidak selalu seirama dengan kecakapan literasi keuangan. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mengungkap, meskipun tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai 65,43% dan kelompok Generasi Z mencatat indeks literasi yang relatif tinggi, OJK tetap menilai edukasi berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak. Hal ini terjadi salah satunya karena membludaknya informasi di media sosial yang juga melahirkan fenomena fear of missing out (FOMO), ekspektasi keuntungan instan, hingga munculnya berbagai tawaran investasi yang belum tentu kredibel. Dalam konteks ini, keberadaan Galeri Investasi di kampus-kampus menjadi semakin penting sebagai ruang belajar yang mempertemukan teori, praktik, dan pendampingan bagi calon investor muda. Realita tersebut terasa nyata di lingkungan kampus. Pasar modal tak lagi dipandang sebagai dunia yang eksklusif bagi pebisnis atau profesional keuangan. Di berbagai perguruan tinggi, Galeri Investasi dan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) mulai menjadi ruang belajar baru bagi mahasiswa yang ingin mengenal investasi secara lebih serius. Di sinilah kisah Robi'ul Anwarudi, mahasiswa semester lima Universitas Binaniaga Indonesia (Unbin) di Bogor, Jawa Barat, bermula. Ia menjadi potret menarik tentang bagaimana rasa ingin tahu berpadu padan dengan komunitas dan teknologi, sehingga mengubah seorang pemula menjadi penggerak literasi investasi di kampusnya. Robi tak memulai investasinya dengan modal besar. Nasabah muda dari BNI Sekuritas ini, pun tak memiliki latar belakang keluarga investor. Ketertarikannya pada pasar modal tumbuh saat masih duduk di bangku SMK. Saat itu, ia hanya sebatas mendengar cerita tentang saham tanpa benar-benar memahami cara kerjanya. Kesempatan baru datang ketika memasuki semester dua perkuliahan. Seorang kawan mengajaknya mencoba berinvestasi. Sebagai langkah awal merambah pasar modal, kampusnya memberi bekal investasi Rp20.000. Namun, saat itu Robi masih diselimuti keraguan. “Saat itu saya berpikir kalau memang menguntungkan, nanti baru saya tambah. Yang penting mencoba dulu,” kata Robi, Rabu (5/8/2026) di Jakarta. Modal yang tidak besar itu justru menjadi tantangan pribadi bagi Robi. Robi ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa investasi bukan semata soal besarnya uang yang dimiliki, tetapi juga tentang proses belajar. Hampir setiap malam ia menghabiskan waktu menonton video edukasi mengenai pasar modal di YouTube. Keesokan harinya, ia langsung mempraktikkan materi yang baru dipelajari, mulai dari membaca laporan fundamental perusahaan hingga memahami pergerakan harga saham. “Belajar sambil praktik,” ujarnya. Rasa aman terhadap aplikasi Keberadaan Galeri Investasi di kampusnya menjadi pintu masuk bagi Robi untuk mendalami dunia pasar modal. Keterlibatannya di lingkungan tersebut membawanya bergabung dengan Kelompok Studi Pasar Modal atau KSPM, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Ketua KSPM. Namun, di balik peran tersebut, Robi justru menemukan persoalan yang jauh lebih besar dibanding sekadar mencari keuntungan dari transaksi saham. Menurutnya, minat mahasiswa terhadap investasi sebenarnya sangat tinggi. Hampir setiap kegiatan literasi pasar modal yang diselenggarakan kampus selalu dipadati mahasiswa. Namun, antusiasmetersebut terkadang terhenti oleh rasa ragu dan kebingunan mengenai bagaimana cara memulai investasi. Sebagian mahasiswa khawatir kehilangan uang, sebagian lainnya belum memiliki tempat belajar yang tepat. “Mereka sebenarnya ingin investasi, tapi belum punya wadah,” ujarnya. Dari situlah Robi lalu menetapkan satu visi sederhana, menjadikan KSPM sebagai ruang belajar bersama, bukan sekadar komunitas yang berisi orang-orang yang sudah mahir berinvestasi. Perubahan itu terlihat dari perkembangan organisasinya. Saat generasi pertama KSPM hanya beranggotakan belasan mahasiswa, kini jumlah pendaftar terus meningkat. Menurut Robi, banyak mahasiswa datang bukan karena sudah memahami pasar modal, melainkan karena ingin belajar. Mereka yang diterima bukan semata-mata yang paling pintar, tetapi yang menunjukkan rasa ingin tahu paling besar. Dalam proses pembelajaran tersebut, teknologi memainkan peran penting. Sejak tahun lalu Robi menggunakan aplikasi BIONS by BNI Sekuritas sebagai partner berinvestasi sekaligus media belajar. Salah satu alasan utamanya, rasa aman karena aplikasi tersebut berada di bawah perusahaan sekuritas milik bank. Platform yang tepercaya, menurut Robi, menjadi faktor penting bagi mahasiswa yang baru pertama kali mengenal investasi. Ketika ditanya apakah data pribadi aman atau proses registrasi rumit, ia dapat menjelaskan dengan lebih percaya diri karena platform yang digunakan memiliki kredibilitas yang jelas. Bagi Robi, teknologi bukan sekadar memudahkan transaksi. Fitur seperti Automatic Order membantunya berdisiplin dalam trading . Ia terbiasa menetapkan target keuntungan sekitar 2–3 persen, kemudian membiarkan sistem mengeksekusi transaksi secara otomatis tanpa harus terus memantau layar. Kebiasaan ini, menurut dia, melatih agar tidak serakah dan tetap berpegang pada strategi yang telah disusun sejak awal. Yang tak kalah penting adalah ekosistem belajar yang mengelilinginya. BNI Sekuritas contohnya, menggelar sesi Market Update dan L ive Trading . Sementara Bursa Efek Indonesia menyelenggarakan Sekolah Pasar Modal. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa berkumpul di Galeri Investasi untuk mengikuti analisis pasar secara langsung. Mereka tidak hanya diajak membeli saham, tetapi juga memahami alasan di balik setiap keputusan investasi, mulai dari kapan waktu masuk, kapan mengambil keuntungan, hingga kapan harus membatasi kerugian. Bagi Robi, pendampingan seperti ini jauh lebih berharga daripada sekadar menerima rekomendasi saham. Upaya membangun ekosistem investasi tidak berhenti di lingkungan kampus. BNI Sekuritas mengembangkan sejumlah ruang yang memungkinkan nasabah ritel dan komunitas pasar modal bertemu, berdiskusi, maupun konsultasi langsung. Salah satunya, BIONS Lounge di BNI Sekuritas Cabang Gama Tower , Jakarta, yang didesain menjadi ruang nyaman untuk berbincang mengenai investasi dan pasar modal. Konsep serupa juga hadir di Kantor Cabang BNI Sekuritas Medan melalui area lounge yang lebih luas dan modern. Area ini bisa digunakan untuk kegiatan edukasi seperti live trading , workshop , maupun diskusi antar-investor. Sementara itu, Kantor Cabang BNI Sekuritas Denpasar atau Bali Hub membawa konsep ruang interaksi dan kolaborasi bagi investor ritel dan komunitas pasar modal di Bali. Dengan pendekatan tersebut, kantor cabang tidak hanya menjadi tempat melakukan transaksi, tetapi juga ruang pertemuan tempat investor dapat bertukar pengalaman dan memperdalam pengetahuan mengenai pasar modal. Bukan jalan pintas untuk kaya Robi melihat tantangan terbesar justru datang dari cara pandang sebagian generasi muda terhadap investasi. Banyak mahasiswa, ujarnya, datang dengan ekspektasi memperoleh keuntungan besar dari modal yang sangat kecil. Tak sedikit pula yang terpengaruh narasi media sosial yang hanya menampilkan kisah sukses tanpa memperlihatkan risiko. “Fenomena influencer investasi ada kontribusi meningkatkan minat mahasiswa, tetapi di sisi lain bisa memunculkan ekspektasi yang kurang realistis jika tidak diimbangi edukasi yang benar,” ungkapnya. Oleh karena itu, setiap kali mengedukasi anggota baru, Robi selalu mengingatkan bahwa investasi bukan jalan pintas menuju kekayaan. Sebelum membeli saham, seseorang harus memahami karakter risikonya sendiri, menetapkan batas kerugian, membaca berita ekonomi, mempelajari fundamental perusahaan, serta disiplin menjalankan strategi. “Kalau sudah memutuskan masuk ke pasar modal, harus tahu risikonya dulu,” katanya. Pesan itu berlandaskan pengalaman pribadinya yang pernah sangat bersemangat hingga melakukan lebih dari 30 transaksi dalam sehari hanya demi mengejar keuntungan kecil. Pengalaman ini lalu mengajarinya untuk mengendalikan emosi saat berinvestasi. Kini, tantangan yang dahulu ia berikan kepada dirinya sendiri mulai menunjukkan hasil. Modal awal Rp20.000 saat ini berkembang menjadi Rp500.000. Target-target finansial memang belum semuanya tercapai karena kondisi pasar yang fluktuatif. Namun, bagi Robi, kemampuan untuk terus belajar dan bertahan di pasar menjadi indikator pencapaian yang tak boleh ditepikan. “Bukan melulu soal angka keuntungan. Saya bahkan telah menarik seluruh modal awal dan membiarkan keuntungan yang diperoleh terus berputar sebagai investasi,” akunya. Di tengah meningkatnya jumlah investor muda di Indonesia, kisah Robi menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar modal perlu ditopang oleh ekosistem yang mendorong anak muda belajar, berdiskusi, dan memahami risiko sebelum mengambil keputusan finansial. Sebab, pada akhirnya, investasi tak cuma bersiasat mengejar cuan, melainkan proses membangun kebiasaan berpikir jangka panjang.

BNI Sekuritas Perkuat Jaringan Cabang, Integrasikan Pengalaman Investasi Digital dan Tatap Muka
Siaran Pers

BNI Sekuritas Perkuat Jaringan Cabang, Integrasikan Pengalaman Investasi Digital dan Tatap Muka

Jakarta, 18 September 2026 – Perkembangan teknologi digital telah membuat investasi semakin mudah diakses, mulai dari memperoleh informasi hingga melakukan transaksi kapan saja. Namun, bagi PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas/Perusahaan), kemudahan digital dan interaksi secara langsung memiliki peran yang saling melengkapi dalam menghadirkan pengalaman investasi yang lebih optimal bagi Nasabah. Hal tersebut diwujudkan melalui pembaruan (revamp) jaringan kantor cabang BNI Sekuritas secara bertahap di berbagai kota di Indonesia. Sejumlah cabang telah hadir dengan konsep baru, salah satunya kantor cabang Gama Tower di Jakarta, serta cabang di Bali, Medan, Pekanbaru, dan Aceh. Pembaruan serupa akan terus diperluas ke kota-kota lainnya. Revamp ini tidak sekadar memperbarui tampilan fisik kantor, tetapi juga mendefinisikan kembali peran cabang sebagai ruang interaksi, edukasi, dan pendampingan Nasabah di tengah perkembangan layanan digital. Plt. Direktur Utama BNI Sekuritas Vera Ongyono mengatakan, digitalisasi terus memberikan kemudahan bagi investor dan menjadi bagian penting dalam pengembangan layanan BNI Sekuritas. Di saat yang sama, interaksi secara langsung tetap memiliki nilai penting, sehingga keduanya perlu dioptimalkan secara bersama-sama. “Digitalisasi memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagi investor dalam berinvestasi. Di sisi lain, kami meyakini bahwa interaksi secara langsung tetap memiliki peran penting, khususnya ketika Nasabah membutuhkan diskusi, pendampingan secara personal atau mendapatkan penjelasan lebih mendalam. Karena itu, kami menghadirkan pengalaman layanan digital dan tatap muka yang saling melengkapi untuk memberikan layanan investasi yang semakin nyaman dan menyeluruh,” ujar Vera. Vera menambahkan bahwa penguatan jaringan cabang ini juga menjadi bagian dari sinergi BNI Sekuritas dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) selaku induk perusahaan. Kantor cabang BNI Sekuritas Gama Tower menjadi salah satu manifestasi kolaborasi tersebut, khususnya bersama BNI Regional 10, dalam menghadirkan akses dan pengalaman layanan investasi yang semakin dekat dengan Nasabah. Salah satu elemen utama dalam konsep cabang yang baru adalah lounge Nasabah, yang dirancang sebagai ruang yang lebih terbuka, nyaman, dan bernuansa kasual untuk berdiskusi dan berinteraksi. Selain menjadi ruang untuk berdiskusi, lounge ini juga mendukung berbagai kegatan edukasi dan engagement, seperti Market Update, Live Trading, Klinik Saham, hingga aktivitas bersama komunitas investor. Kehadiran lounge juga memberikan ruang bagi investor, khususnya yang baru memulai perjalanan investasi, untuk bertanya, memahami informasi, dan mendapatkan perspektif dari sumber yang tepercaya di tengah derasnya informasi investasi di berbagai platform digital. “Kami melihat investor pemula membutuhkan ruang untuk memahami pilihan investasi dan mendiskusikan keputusan investasinya. Lounge di kantor cabang kami hadir untuk memberikan pengalaman tersebut, sehingga Nasabah dapat memanfaatkan kemudahan digital melalui aplikasi BIONS dan memiliki akses terhadap interaksi secara langsung ketika membutuhkannya,” tambah Vera. Konsep tersebut menjadi bagian dari pendekatan hybrid investment experience BNI Sekuritas. Nasabah dapat memanfaatkan layanan digital untuk memperoleh akses dan fleksibilitas melalui aplikasi BIONS, sementara kantor cabang menjadi physical touchpoint untuk mendapatkan pengalaman yang lebih personal. “Kami ingin Nasabah memiliki pilihan sesuai kebutuhannya. Teknologi memberikan akses dan kemudahan, sementara kehadiran fisik memberikan ruang untuk pendampingan secara langsung. Dengan mengoptimalkan keduanya, kami dapat mendampingi Nasabah dengan lebih baik dalam perjalanan investasinya,” tutup Vera. Melalui transformasi ini, BNI Sekuritas terus menghadirkan pengalaman investasi yang semakin mudah diakses secara digital sekaligus semakin dekat secara personal.