Hak Cipta © 2023 PT BNI Sekuritas merupakan perusahaan anak dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Hak Cipta © 2023 PT BNI Sekuritas merupakan perusahaan anak dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

Jakarta, 21 Januari 2025 – PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) kembali menunjukkan komitmen serius dalam mendukung pengembangan pasar modal Indonesia, melalui partisipasinya dalam pembelian karbon di pembukaan bursa karbon internasional pada hari Senin, 20 Januari 2025. Kali ini, BNI Sekuritas membeli sebanyak 6.250 unit karbon, setelah sebelumnya pada tahun 2023 turut membeli 40.000 unit karbon untuk Grup PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) pada pembukaan bursa karbon pertama.
Plt. Direktur Utama BNI Sekuritas Vera Ongyono, menegaskan langkah ini mencerminkan dukungan BNI Sekuritas terhadap pengembangan infrastruktur perdagangan karbon yang diprakarsai oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai penyelenggara bursa karbon, sekaligus memperkuat peranan perusahaan dalam membangun ekosistem bursa karbon di Indonesia. Di samping itu, hal ini juga menunjukkan konsistensi BNI Sekuritas dalam menerapkan strategi keberlanjutan melalui praktik bisnis yang ramah lingkungan dan guna mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060.
Vera menambahkan, sebagai pelaku pasar modal Indonesia, BNI Sekuritas berkomitmen mendukung pengembangan pasar modal sesuai dengan Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 yang menyatakan bahwa pasar modal memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional, baik sebagai sumber pembiayaan untuk dunia usaha maupun sarana investasi bagi masyarakat.
Selain pembelian karbon, BNI Sekuritas mewujudkan pelaksanaan Roadmap Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan peranannya sebagai penjamin emisi untuk 7 obligasi hijau dan 3 sukuk hijau dengan total nilai penerbitan Rp 10,9 triliun yang telah diberikan apresiasi penghargaan, baik di tingkat nasional maupun internasional, seperti The Asset Triple A Sustainable Infrastructure Awards 2024 untuk kategori Renewable Energy Deal of the Year, The Asset Triple A Sustainable Finance 2024 untuk kategori Best Green Bond - Financial Institution, dan Alpha Southeast Asia 17th Annual Best Deal & Solution Awards 2023 untuk kategori Best ESG Green Financing in Indonesia.
###SELESAI###

Jakarta, 19 Februari 2026 — PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) kembali menunjukan prestasinya dengan meraih dua penghargaan pada ajang 19th Annual Deal & Solution and ESG Awards 2025 yang diselenggarakan oleh Alpha Southeast Asia di Singapura, Kamis (12/2). Dalam ajang tersebut, BNI Sekuritas dinobatkan sebagai “Best Sovereign Sukuk & Best Social Bonds in Asia 2025” dan “Best Mid-Cap Equity Deal of The Year in Indonesia 2025”. Hadir mewakili BNI Sekuritas, SEVP Investment Banking, Ikhsan Ramdan, menyatakan bahwa penghargaan yang diberikan oleh Alpha Southeast Asia ini merupakan bukti komitmen BNI Sekuritas dalam menangani transaksi pasar modal yang menantang dan strategis, baik di instrumen pendanaan berkelanjutan, maupun transaksi ekuitas emiten berkapitalisasi menengah di Indonesia. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemangku kepentingan atas kepercayaan yang telah diberikan. BNI Sekuritas terus berupaya untuk menyediakan solusi investasi dan pembiayaan yang kredibel, inovatif, serta selaras dengan prinsip keberlanjutan, sekaligus mendukung pertumbuhan pasar modal nasional melalui transaksi sovereign-related sukuk, social bonds, dan pengembangan emiten mid-cap yang berkualitas,” ujar Ikhsan. Penghargaan Best Sovereign Sukuk & Best Social Bonds in Asia 2025 diberikan kepada BNI Sekuritas atas perannya sebagai joint lead underwriter dalam penerbitan obligasi sosial dan sukuk mudharabah PT Pegadaian dengan total nilai transaksi sebesar Rp4,46 triliun, yang mendukung penguatan pembiayaan berkelanjutan di pasar domestik berbasis prinsip syariah dan sosial. Selanjutnya, penghargaan Best Mid-Cap Equity Deal of The Year in Indonesia 2025 memperkuat posisi BNI Sekuritas sebagai mitra yang andal dalam transaksi pasar ekuitas berskala besar, melalui perannya sebagai salah satu lead underwriter pada penawaran umum perdana (IPO) PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dengan nilai transaksi sebesar Rp2,37 triliun. Transaksi ini mencerminkan kapabilitas BNI Sekuritas dalam mengeksekusi transaksi ekuitas bernilai signifikan, menarik minat investor domestik dan global, serta berkontribusi pada penguatan daya tarik pasar modal Indonesia. Ikhsan menambahkan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendekatan disiplin dan terintegrasi untuk memperkuat kepercayaan investor, serta pemahaman yang lebih tajam atas dinamika pasar dan kebutuhan klien. “Kami menekankan pentingnya kolaborasi lintas fungsi untuk mengoptimalkan solusi pasar modal secara berkelanjutan,” jelas Ikhsan. Langkah ini sejalan dengan visi BNI Sekuritas untuk menjadi perusahaan perbankan investasi dan pialang sekuritas paling terkemuka dari Indonesia, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Tanah Air. ###SELESAI###

Investasi tidak hanya menjadi sumber potensi penghasilan tambahan, tetapi juga strategi penting untuk menjaga dan meningkatkan nilai aset. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pada awal 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 21 juta orang, naik 40% dibandingkan 15 juta pada awal 2025. Tren ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keuangan melalui instrumen pasar modal. Di tengah fluktuasi pasar di awal 2026, investor cenderung mencari instrumen yang aman dan stabil. PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) memandang obligasi pemerintah dan reksa dana pasar uang (RDPU) sebagai pilihan investasi yang menarik, karena menawarkan kombinasi imbal hasil atraktif sekaligus likuiditas tinggi. Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas Amir Dalimunthe mengatakan bahwa BNI Sekuritas memandang prospek investasi di pasar obligasi Indonesia tetap positif. Untuk tahun 2026, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) diperkirakan dapat mencatatkan total return sekitar 7–8%, seiring dengan potensi penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke kisaran rata-rata 6,2% dan menuju 5,8% pada akhir tahun. Proyeksi tersebut didorong oleh arah kebijakan suku bunga yang cenderung lebih akomodatif serta mempertimbangkan arah perkembangan kondisi makroekonomi global dan domestik. Amir juga menilai bahwa untuk investor dengan horizon jangka pendek, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) tetap menjadi pilihan yang relevan. Instrumen ini cocok bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan kestabilan nilai, terutama di tengah kondisi pasar keuangan yang masih penuh ketidakpastian. Dibandingkan tabungan atau deposito, RDPU menawarkan potensi imbal hasil yang relatif lebih kompetitif dengan risiko yang tetap terkelola. “Memasuki awal 2026, investor disarankan untuk menerapkan strategi investasi yang terukur dengan memperhatikan keseimbangan antara risiko, likuiditas, dan potensi imbal hasil. Obligasi dan RDPU dapat menjadi bagian penting dalam portofolio, khususnya bagi investor yang mengutamakan stabilitas nilai dan konsistensi hasil. Dengan pemahaman yang baik terhadap karakteristik masing-masing instrumen serta dukungan informasi yang memadai, investor tetap memiliki peluang untuk menjaga dan mengembangkan nilai aset di tengah tantangan pasar,” tutup Amir. Melalui New BIONS by BNI Sekuritas, perusahaan berkomitmen menjadi mitra distribusi SBN dan RDPU dalam menyediakan alternatif investasi yang aman dan menarik bagi masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu contohnya adalah ORI029, yang dapat menjadi pilihan strategis untuk diversifikasi portofolio, khususnya di tengah kondisi pasar yang dinamis dan volatilitas tinggi akibat berbagai faktor global dan domestik. ###SELESAI###

Dalam beberapa hari terakhir, pasar modal bergerak fluktuatif, ditandai lonjakan volatilitas IHSG, trading halt beruntun, dan tekanan dari sentimen global. Hal tersebut dipicu salah satunya karena aliran dana asing dan pergerakan indeks MSCI, yang kemudian membuat banyak investor ritel semakin berhati-hati dan menyesuaikan strategi investasi agar portofolio terkelola dengan baik. PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) memahami bahwa kekhawatiran di tengah pasar yang bergejolak adalah hal yang wajar. “Banyak investor bertanya-tanya, ‘Apakah saya berinvestasi di waktu yang tepat?’ atau ‘Perlukah saya menyesuaikan langkah sebelum koreksi berlanjut?’ Pemikiran itu normal dan menunjukkan perhatian tinggi terhadap pengelolaan nilai investasi mereka,” ujar Teddy Wishadi, Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas. Meski pasar dapat mengalami koreksi, sejarah menunjukkan bahwa IHSG mampu pulih setelah fase koreksi signifikan. "Sebagai contoh, pada krisis keuangan 2008, IHSG sempat anjlok 58% dari peaknya dan kembali naik 77% dalam 6 bulan dan 113% dalam 12 bulan setelah mencapai bottom. Kemudian saat taper tantrum 2013, indeks terkoreksi 24% dari peaknya dan pulih 16% dalam 6 bulan dan 31% dalam 12 bulan setelah mencapai bottomnya. Lalu saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020, IHSG turun 33% dari peaknya, tapi recover 24% dalam 6 bulan dan 59% dalam 12 bulan sejak capai bottom,” jelas Teddy Menurut Teddy, pergerakan IHSG merupakan refleksi dari dinamika sentimen pasar yang bersifat jangka pendek. Volatilitas seperti ini merupakan bagian dari siklus pasar yang wajar. Berikut adalah hal yang dapat dilakukan oleh investor saat ini: Sesuaikan Strategi Investasi Meninjau ulang strategi sesuai profil risiko dan tujuan investasi jangka panjang menjadi langkah penting. Disiplin dalam alokasi dan pemilihan instrumen membantu mengurangi tekanan psikologis saat pasar bergejolak. Beli Saham Blue Chip Saham-saham dengan kapitalisasi besar dan fundamental kuat terbukti lebih tahan terhadap volatilitas. Pilihan ini dapat membantu investor tetap berada di pasar tanpa mengambil risiko berlebihan. Diversifikasi Instrumen Selain saham, investor dapat mempertimbangkan instrumen lain untuk menyeimbangkan portofolio: Obligasi korporasi dan Surat Berharga Negara (SBN): Memberikan pendapatan tetap dan stabil. Reksa dana campuran atau pendapatan tetap: Diversifikasi otomatis antara saham dan obligasi, mengurangi risiko sekaligus tetap berpartisipasi di pasar modal. Deposito dan instrumen pasar uang: Likuid dan aman untuk menunggu momentum pasar. Emas: Lindung nilai yang relatif stabil saat pasar bergejolak. Hindari Investasi dengan Pinjaman Investor sebaiknya menghindari penggunaan dana pinjaman atau leverage, terutama saat pasar volatil, karena dapat memperbesar risiko kerugian dan tekanan finansial. “BNI Sekuritas memahami peningkatan kehati-hatian di tengah volatilitas pasar. Terpenting adalah memahami pilihan instrumen investasi yang tersedia, tetap disiplin, dan menyesuaikan strategi dengan tujuan jangka panjang. Dengan pendekatan ini, investor dapat menyikapi dinamika pasar dengan lebih percaya diri, serta melihat peluang di setiap pergerakannya. Seluruh proses investasi dapat dilakukan dengan aman dan nyaman melalui New BIONS by BNI Sekuritas, yang didukung riset akurat dari tim analis yang andal,” tutup Teddy. ###SELESAI###