Hak Cipta © 2023 PT BNI Sekuritas merupakan perusahaan anak dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Hak Cipta © 2023 PT BNI Sekuritas merupakan perusahaan anak dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

Investasi menjadi salah satu cara bagi individu untuk dapat mencapai tujuan finansial atau kemerdekaan finansial di hidupnya. Salah satu instrumen investasi yang dapat diikuti adalah investasi saham. Investasi saham merupakan instrumen investasi yang masuk ke dalam kategori instrumen investasi high risk high return.
SEVP Retail Markets & Technology BNI Sekuritas Teddy Wishadi menyampaikan investasi saham, meskipun menawarkan potensi pengembalian yang tinggi, juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, dianjurkan bagi para investor dan calon investor untuk dapat mengenali risiko investasi saham agar mereka dapat membangun portofolio yang sehat dan berkelanjutan.
Menurut Teddy, terdapat 7 risiko investasi saham yang perlu diketahui di bawah ini:
1. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko yang terjadi ketika suatu aset, seperti saham, sulit untuk dibeli atau dijual dengan cepat tanpa mempengaruhi harga pasar secara signifikan. Risiko ini muncul karena kurangnya minat dari investor atau terbatasnya likuiditas (kelancaran transaksi) pada aset tertentu. Dalam konteks saham, risiko likuiditas bisa menyebabkan penurunan harga jual karena ada sedikit pembeli yang bersedia membeli saham tersebut, sehingga investor mungkin harus menjual saham dengan harga yang lebih rendah dari yang diharapkan.
Teddy menjelaskan bahwa salah satu contoh saham yang sering kali memiliki risiko likuiditas tinggi adalah saham gorengan. Saham ini memiliki fundamental yang kurang baik namun mengalami fluktuasi tidak rasional karena adanya manipulasi pasar yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.
2. Risiko Forced Delisting
Risiko Forced Delisting adalah situasi di mana sebuah perusahaan dipaksa untuk menghapus sahamnya dari bursa efek. Hal ini menyebabkan investor dapat kehilangan nilai investasi karena saham perusahaan yang terpaksa delisting mungkin akan mengalami penurunan nilai atau menjadi tidak likuid.
“Berdasarkan Pengumuman Bursa No. Peng-SPT-00006/BEI.PP3/05-2023 tanggal 8 Mei 2023, BEI dapat menghapus saham perusahaan tercatat apabila mengalami kondisi atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha emiten, baik secara finansial maupun secara hukum. Oleh karena itu, penting bagi tiap investor untuk melakukan riset menyeluruh tentang perusahaan yang akan kita investasikan,” jelas Teddy.
3. Risiko Capital Loss
Risiko Capital Loss adalah risiko di mana nilai investasi seseorang menurun dari harga beli awalnya. Hal ini terjadi ketika harga aset, seperti saham atau obligasi, turun di bawah harga beli investor. Risiko ini umumnya terjadi karena fluktuasi pasar yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, atau peristiwa berita.
“Sebagai contoh, terdapat situasi di mana saham menjadi terlalu populer sehingga harganya melonjak drastis dalam waktu singkat, semata karena sektor tersebut sedang trendi, meskipun perusahaan belum menghasilkan keuntungan. Saham semacam itu rentan mengalami penurunan yang signifikan jika harapan pertumbuhannya tidak terwujud. Konsekuensinya adalah investor dapat mengalami kerugian finansial jika mereka harus menjual aset dengan harga lebih rendah dari harga pembelian mereka,” jelas Teddy.
4. Risiko Pasar (Systematic Risk)
Risiko pasar pada investasi saham merujuk pada fluktuasi harga saham yang disebabkan oleh perubahan kondisi pasar secara keseluruhan. Risiko ini tidak dapat dihindari dan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, suku bunga, sentimen investor, dan peristiwa politik.
Menurut Teddy, diversifikasi portofolio dapat membantu mengurangi kerugian dan melindungi nilai investasi dari dampak negatif yang mungkin timbul akibat fluktuasi pasar.
5. Risiko Tidak Sistematis (Unsystematic Risk)
Risiko Tidak Sistematis (Unsystematic Risk) dalam konteks investasi saham adalah risiko yang bersifat spesifik bagi suatu perusahaan atau aset tertentu, dan tidak terkait dengan perubahan yang terjadi di pasar secara keseluruhan. Risiko ini dapat dianggap sebagai risiko idiosinkratis yang dapat dikelola atau diatasi melalui diversifikasi portofolio.
“Sama halnya dengan risiko pasar, investor dapat mengelola risiko ini dengan cara diversifikasi portfolio,” tambah Teddy.
6. Risiko Inflasi
Risiko inflasi dalam investasi saham adalah potensi penurunan daya beli karena kenaikan tingkat inflasi. Inflasi dapat menyebabkan penurunan nilai riil, pendapatan dividen, dan kinerja pasar saham.
Teddy mengatakan bahwa beberapa sektor mungkin lebih rentan terhadap risiko inflasi daripada yang lain. Misalnya, sektor utilitas yang biasanya memiliki struktur harga yang diatur oleh pemerintah mungkin tidak dapat menyesuaikan harga jual mereka secara cepat dengan tingkat inflasi, yang dapat mengurangi profitabilitas mereka dan mempengaruhi harga saham.
7. Risiko Kebangkrutan
Risiko kebangkrutan adalah kemungkinan perusahaan tidak dapat membayar hutang atau kewajiban keuangannya. Risiko ini dapat berdampak negatif pada nilai saham dan menyebabkan kerugian bagi investor. Penyebabnya dapat meliputi kinerja buruk, manajemen yang tidak efisien, hutang berlebihan, atau persaingan industri.
“Investor diharapkan dapat menilai keberlangsungan bisnis perusahaan dalam jangka panjang agar dapat terhindar dari risiko ini. Pasalnya, saham dari perusahaan yang gagal beradaptasi dengan perubahan dalam industri atau pasar yang lebih luas memiliki risiko kebangkrutan yang lebih tinggi,” ungkap Teddy.
"Melalui pemahaman yang mendalam mengenai risiko-risiko investasi saham dan pengelolaannya, para investor dapat mengambil keputusan yang lebih cerdas dan terinformasi. BNI Sekuritas dengan platform multi investasi BIONS (BNI Sekuritas Innovative Online trading Systems) berkomitmen untuk terus memberikan konten edukasi seperti Morning Investview, webinar gratis, trading bareng, hingga analisis dan rekomendasi saham setiap hari. BIONS berupaya menjadi teman bagi para Nasabahnya untuk menemukan instrumen mana yang sesuai dengan mereka. Hal ini merupakan bentuk dukungan BNI Sekuritas kepada Nasabah dalam meraih keberhasilan finansial mereka,” tutup Teddy.

Setiap investor punya titik awal yang berbeda. Begitu pula dengan Firmantriilahi (Firman), salah satu nasabah BNI Sekuritas, yang mengawali perjalanan investasinya dari instrumen konservatif sebelum akhirnya menekuni strategi trading saham jangka pendek atau scalping. Sebagai informasi, scalping adalah strategi trading jangka pendek yang memanfaatkan pergerakan harga saham dalam waktu singkat melalui transaksi yang dilakukan secara cepat dan berulang. Menariknya, scalping bukanlah titik awal perjalanan Firman di pasar modal. Dirinya justru memulai perjalanannya dari instrumen yang relatif lebih konservatif, seperti obligasi dan deposito. Ketertarikannya pada saham kemudian mendorongnya untuk mulai mempelajari investasi saham dengan pendekatan fundamental sekitar tahun 2020 – 2021. Setelah beberapa tahun belajar, mencoba, dan mengevaluasi berbagai pendekatan, Firman akhirnya menemukan bahwa trading jangka pendek lebih sesuai dengan karakter dan gaya investasinya. Sebagai scalper, Firman tidak berfokus mengejar keuntungan besar dalam satu transaksi. Ia lebih memilih memanfaatkan peluang dari pergerakan harga jangka pendek sesuai strategi yang telah ditetapkan, sembari tetap disiplin dalam mengelola risiko. Perjalanan inilah yang membuat kisah Firman relevan bagi investor pemula. Bukan karena scalping merupakan strategi yang harus diikuti, melainkan karena pengalamannya menunjukkan bahwa menemukan gaya investasi yang sesuai membutuhan proses. Pengalaman, evaluasi, hingga kesalahan yang pernah dilakukan dapat menjadi bagian dari pembelajaran untuk memahami strategi yang paling sesuai dengan karakter dan toleransi risiko masing-masing. Tidak harus langsung menemukan gaya investasi Saat mulai berinvestasi di pasar modal, investor pemula dihadapkan pada beragam pilihan strategi dan instrumen investasi. Sebagian memilih saham untuk jangka panjang, sebagian lainnya lebih aktif melakukan trading, sementara ada pula yang mempertimbangkan instrumen seperti obligasi sesuai dengan kebutuhn dan profil investasinya.Firman sendiri tidak langsung tahu pendekatan mana yang paling cocok. Ia memulai perjalanannya dari instrumen yang relatif konservatif, kemudian mempelajari investasi saham dengan pendekatan fundamental, sebelum akhirnya menekuni scalping. Baginya, setiap tahap memberikan pengalaman dan pembelajaran yang berbeda. Dari sini, ada satu pelajaran penting bagi investor pemula: jangan memilih gaya investasi hanya karena sedang populer. Kenali tujuan investasi, waktu yang tersedia, toleransi terhadap risiko, serta seberapa jauh kita memahami instrumen yang dipilih. Gaya investasi yang terlihat menarik bagi orang lain belum tentu sesuai dengan karakter dan kebutuhan diri sendiri. Semakin cepat mengambil keputusan, semakin penting riset Sebagai scalper, Firman harus mengambil keputusan dalam waktu singkat. Namun, keputusan cepat bukan berarti keputusan tanpa persiapan.Sebelum mengambil posisi, ia terbiasa mencari dan mempelajari berbagai informasi sebagai bahan pertimbangan. Salah satu referensi yang digunakannya adalah Trading Idea di aplikasi BIONS milik BNI Sekuritas. Ia juga memanfaatkan Broker Summary atau “Broksum” untuk mengamati aktivitas broker di pasar. Bagi Firman, berbagai informasi tersebut menjadi bagian dari proses analisis sebelum mengambil keputusan. Ia tidak menjadikan satu informasi sebagai jaminan bahwa sebuah transaksi akan memberikan hasil sesuai harapan. Di sinilah pentingnya riset bagi investor. Semakin memahami alasan di balik sebuah keputusan, semakin kecil kemungkinan keputusan investasi hanya didorong oleh rumor, tren, atau sekadar fear of missing out (FOMO). Riset memang tidak dapat menghilangkan risiko. Namun, setidaknya keputusan investasi dapat dibuat berdasarkan pertimbangan yang lebih jelas dan terukur.Kesalahan adalah bagian dari proses belajar Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Firman justru datang dari sebuah kesalahan. Ia pernah menghadapi aksi korporasi right issue ketika belum memahami mekanismenya secara menyeluruh. Keputusan yang diambil saat itu kemudian menjadi pengalaman yang membuatnya semakin menyadari bahwa belajar saham tidak cukup hanya dengan melihat pergerakan harga dan grafik. Investor juga perlu memahami bagaimana berbagai aksi korporasi bekerja, seperti right issue, stock split, maupun pembagian dividen, karena masing-masing dapat memengaruhi kepemilikan maupun strategi investasi. Bagi investor pemula, pelajarannya jelas, jangan membeli saham sebelum memahami apa yang sebenarnya kita beli dan bagaimana mekanismenya bekerja. Kesalahan mungkin tidak selalu bisa dihindari. Namun, ketika dievaluasi dan dipahami, kesalahan dapat menjadi bekal untuk mengambil keputusan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya. Kecil-kecil, tidak serakah Setelah melalui berbagai pengalaman tersebut, Firman menemukan satu prinsip yang ia pegang dalam trading: “Kecil-kecil, tidak serakah”. Prinsip ini bukan berarti scalping selalu menghasilkan keuntungan. Trading jangka pendek tetap memiliki risiko kerugian dan membutuhkan pengelolaan risiko yang disiplin. Bagi Firman, prinsip tersebut lebih menjadi pengingat agar tidak terbawa keinginan mengejar keuntungan terlalu besar dalam satu transaksi. Ia juga terus mengasah pengetahuannya melalui berbagai kegiatan edukasi dan komunitas trading, seperti Market Update, Live Trading, dan Cuanpionship yang diselenggarakan BNI Sekuritas. Pengalaman menunjukan bahwa menemukan gaya investasi bukanlah garis akhir. Setelah menentukan strategi yang dirasa sesuai, investor tetap perlu belajar, mengevaluasi keputusan, dan memahami risiko yang menyertainya. Bagi investor pemula, hal terpenting bukan mengikuti gaya investasi orang lain, mengenali diri sendiri dan memahami instrumen yang dipilih. Mulailah dengan belajar, gunakan informasi yang kredibel, pahami mekanisme pasar, dan kenali batas risiko masing-masing. Seperti yang dipelajari Firman dari perjalanannya, investasi di pasar modal bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang memagami setiap pilihan, mengambil keputusan dengan bijak, dan menjalaninya dengan disiplin.

Jakarta, 5 Oktober 2026 – PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas) kembali dipercaya Kementerian Keuangan Republik Indonesia menjadi salah satu mitra distribusi Surat Berharga Negara (SBN) Ritel. Kali ini, BNI Sekuritas menawarkan Savings Bond Ritel seri SBR015 yang dapat dipesan melalui platform digital New BIONS by BNI Sekuritas selama masa penawaran 28 September hingga 22 Oktober 2026. SBR015 ditawarkan dalam dua pilihan tenor. SBR015T2 memiliki tenor 2 tahun dengan kupon minimal 6.75% per tahun dan akan jatuh tempo pada 10 Oktober 2028. Sementara itu, SBR015T4 memiliki tenor 4 tahun dengan kupon minimal 6.85% per tahun dan akan jatuh tempo pada 10 Oktober 2030. Kupon SBR015 bersifat floating with floor, sehingga tingkat kupon dapat menyesuaikan perubahan BI-Rate pada periode penyesuaian, namun tidak dapat turun di bawah tingkat kupon minimum yang telah ditetapkan. Pemerintah menetapkan spread tetap sebesar 100 bps atau 1,00% untuk SBR015T2 dan 110 bps atau 1,10% untuk SBR015T4. Kedua seri dapat dipesan mulai dari Rp1 juta, dengan batas maksimum pemesanan sebesar Rp5 miliar untuk SBR015-T2 dan Rp10 miliar untuk SBR015-T4. SBR015 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, namun Investor dapat memanfaatkan fasilitas early redemption untuk mencairkan sebagian kepemilikannya sebelum jatuh tempo sesuai periode dan ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. Head of Retail Brokerage BNI Sekuritas, Rohma Fitri, mengatakan penunjukan ini menjadi wujud komitmen perusahaan dalam memperluas akses investasi yang aman bagi masyarakat. "Melalui SBR015, nasabah memiliki kesempatan untuk mengembangkan aset secara optimal melalui instrumen investasi yang aman dan stabil, sekaligus berkontribusi dalam mendukung pembangunan nasional," ujar Fitri. SBR015 menawarkan sejumlah keunggulan bagi investor ritel. Dari sisi keamanan, pembayaran pokok dan kupon dijamin oleh negara berdasarkan ketentuan undang-undang. Dari sisi imbal hasil, skema floating with floor kepastian tingkat kupon minimum sekaligus peluang memperoleh tingkat kupon yang lebih tinggi apabila BI-Rate meningkat. Dari sisi likuiditas, investor dapat mencairkan sebagian kepemilikannya sebelum jatuh tempo melalui fasilitas early redemption pada periode yang ditetapkan pemerintah. "Di tengah dinamika suku bunga, SBR015 memberikan kepastian sekaligus peluang. Nasabah terlindungi dari penurunan kupon, tetapi tetap berpeluang menikmati imbal hasil lebih tinggi jika BI Rate naik. Dengan nominal mulai Rp1 juta, SBR015 cocok sebagai sarana diversifikasi portofolio, baik bagi investor pemula maupun yang sudah berpengalaman," jelas Fitri. Nasabah dapat memilih salah satu maupun kedua seri sesuai tujuan keuangan dan jangka waktu investasinya.. SBR015T2 sesuai bagi investor yang membutuhkan dana dalam jangka menengah, sementara SBR015T4 menawarkan kupon minimal lebih tinggi untuk investasi yang lebih panjang. Berinvestasi SBR015 melalui New BIONS by BNI Sekuritas dapat dilakukan dalam empat langkah mudah. Pertama, buka Aplikasi New BIONS; nasabah baru dapat lakukan pembukaan rekening efek dan registrasi akun SBN terlebih dahulu. Kedua, pilih menu Fixed Income/Pendapatan Tetap lalu klik SBN dan pilih seri SBR015-T2 atau SBR015-T4. Ketiga, masukkan nominal pemesanan dan konfirmasi pesanan. Terakhir, selesaikan pembayaran menggunakan kode billing yang diterbitkan sebelum batas waktu pembayaran berakhir. Hasil penjualan SBR015 akan ditetapkan pada 26 Oktober 2026, dengan tanggal setelmen pada 28 Oktober 2026. Informasi lebih lanjut mengenai SBR015 dapat diakses melalui aplikasi New BIONS by BNI Sekuritas.

Situasi ekonomi memang sedang tidak pasti, tetapi kemudahan akses terhadap layanan digital memunculkan fenomena menarik di Indonesia. Salah satunya, terlihat dari semakin meningkatnya ketertarikan generasi muda untuk mengenal investasi sebagai bagian dari pengelolaan keuangan sejak dini. Dari ruang kelas hingga linimasa media sosial, utas mengenai saham, reksa dana, maupun instrumen investasi lainnya semakin banyak dikenal mahasiswa. Tren ini tercermin dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan hingga Agustus 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 17,6 juta Single Investor Identification (SID). Menariknya, lebih dari 54% di antaranya merupakan investor berusia di bawah 30 tahun. Ini menandakan anak-anak muda kini menjadi motor utama pertumbuhan investor pasar modal nasional. OJK bahkan secara khusus mendorong kelompok usia ini menjadi agen literasi keuangan agar mampu berinvestasi secara bijak sekaligus terhindar dari maraknya penipuan berkedok investasi di media sosial. Namun, meningkatnya jumlah investor muda tidak selalu seirama dengan kecakapan literasi keuangan. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mengungkap, meskipun tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai 65,43% dan kelompok Generasi Z mencatat indeks literasi yang relatif tinggi, OJK tetap menilai edukasi berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak. Hal ini terjadi salah satunya karena membludaknya informasi di media sosial yang juga melahirkan fenomena fear of missing out (FOMO), ekspektasi keuntungan instan, hingga munculnya berbagai tawaran investasi yang belum tentu kredibel. Dalam konteks ini, keberadaan Galeri Investasi di kampus-kampus menjadi semakin penting sebagai ruang belajar yang mempertemukan teori, praktik, dan pendampingan bagi calon investor muda. Realita tersebut terasa nyata di lingkungan kampus. Pasar modal tak lagi dipandang sebagai dunia yang eksklusif bagi pebisnis atau profesional keuangan. Di berbagai perguruan tinggi, Galeri Investasi dan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) mulai menjadi ruang belajar baru bagi mahasiswa yang ingin mengenal investasi secara lebih serius. Di sinilah kisah Robi'ul Anwarudi, mahasiswa semester lima Universitas Binaniaga Indonesia (Unbin) di Bogor, Jawa Barat, bermula. Ia menjadi potret menarik tentang bagaimana rasa ingin tahu berpadu padan dengan komunitas dan teknologi, sehingga mengubah seorang pemula menjadi penggerak literasi investasi di kampusnya. Robi tak memulai investasinya dengan modal besar. Nasabah muda dari BNI Sekuritas ini, pun tak memiliki latar belakang keluarga investor. Ketertarikannya pada pasar modal tumbuh saat masih duduk di bangku SMK. Saat itu, ia hanya sebatas mendengar cerita tentang saham tanpa benar-benar memahami cara kerjanya. Kesempatan baru datang ketika memasuki semester dua perkuliahan. Seorang kawan mengajaknya mencoba berinvestasi. Sebagai langkah awal merambah pasar modal, kampusnya memberi bekal investasi Rp20.000. Namun, saat itu Robi masih diselimuti keraguan. “Saat itu saya berpikir kalau memang menguntungkan, nanti baru saya tambah. Yang penting mencoba dulu,” kata Robi, Rabu (5/8/2026) di Jakarta. Modal yang tidak besar itu justru menjadi tantangan pribadi bagi Robi. Robi ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa investasi bukan semata soal besarnya uang yang dimiliki, tetapi juga tentang proses belajar. Hampir setiap malam ia menghabiskan waktu menonton video edukasi mengenai pasar modal di YouTube. Keesokan harinya, ia langsung mempraktikkan materi yang baru dipelajari, mulai dari membaca laporan fundamental perusahaan hingga memahami pergerakan harga saham. “Belajar sambil praktik,” ujarnya. Rasa aman terhadap aplikasi Keberadaan Galeri Investasi di kampusnya menjadi pintu masuk bagi Robi untuk mendalami dunia pasar modal. Keterlibatannya di lingkungan tersebut membawanya bergabung dengan Kelompok Studi Pasar Modal atau KSPM, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Ketua KSPM. Namun, di balik peran tersebut, Robi justru menemukan persoalan yang jauh lebih besar dibanding sekadar mencari keuntungan dari transaksi saham. Menurutnya, minat mahasiswa terhadap investasi sebenarnya sangat tinggi. Hampir setiap kegiatan literasi pasar modal yang diselenggarakan kampus selalu dipadati mahasiswa. Namun, antusiasmetersebut terkadang terhenti oleh rasa ragu dan kebingunan mengenai bagaimana cara memulai investasi. Sebagian mahasiswa khawatir kehilangan uang, sebagian lainnya belum memiliki tempat belajar yang tepat. “Mereka sebenarnya ingin investasi, tapi belum punya wadah,” ujarnya. Dari situlah Robi lalu menetapkan satu visi sederhana, menjadikan KSPM sebagai ruang belajar bersama, bukan sekadar komunitas yang berisi orang-orang yang sudah mahir berinvestasi. Perubahan itu terlihat dari perkembangan organisasinya. Saat generasi pertama KSPM hanya beranggotakan belasan mahasiswa, kini jumlah pendaftar terus meningkat. Menurut Robi, banyak mahasiswa datang bukan karena sudah memahami pasar modal, melainkan karena ingin belajar. Mereka yang diterima bukan semata-mata yang paling pintar, tetapi yang menunjukkan rasa ingin tahu paling besar. Dalam proses pembelajaran tersebut, teknologi memainkan peran penting. Sejak tahun lalu Robi menggunakan aplikasi BIONS by BNI Sekuritas sebagai partner berinvestasi sekaligus media belajar. Salah satu alasan utamanya, rasa aman karena aplikasi tersebut berada di bawah perusahaan sekuritas milik bank. Platform yang tepercaya, menurut Robi, menjadi faktor penting bagi mahasiswa yang baru pertama kali mengenal investasi. Ketika ditanya apakah data pribadi aman atau proses registrasi rumit, ia dapat menjelaskan dengan lebih percaya diri karena platform yang digunakan memiliki kredibilitas yang jelas. Bagi Robi, teknologi bukan sekadar memudahkan transaksi. Fitur seperti Automatic Order membantunya berdisiplin dalam trading . Ia terbiasa menetapkan target keuntungan sekitar 2–3 persen, kemudian membiarkan sistem mengeksekusi transaksi secara otomatis tanpa harus terus memantau layar. Kebiasaan ini, menurut dia, melatih agar tidak serakah dan tetap berpegang pada strategi yang telah disusun sejak awal. Yang tak kalah penting adalah ekosistem belajar yang mengelilinginya. BNI Sekuritas contohnya, menggelar sesi Market Update dan L ive Trading . Sementara Bursa Efek Indonesia menyelenggarakan Sekolah Pasar Modal. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa berkumpul di Galeri Investasi untuk mengikuti analisis pasar secara langsung. Mereka tidak hanya diajak membeli saham, tetapi juga memahami alasan di balik setiap keputusan investasi, mulai dari kapan waktu masuk, kapan mengambil keuntungan, hingga kapan harus membatasi kerugian. Bagi Robi, pendampingan seperti ini jauh lebih berharga daripada sekadar menerima rekomendasi saham. Upaya membangun ekosistem investasi tidak berhenti di lingkungan kampus. BNI Sekuritas mengembangkan sejumlah ruang yang memungkinkan nasabah ritel dan komunitas pasar modal bertemu, berdiskusi, maupun konsultasi langsung. Salah satunya, BIONS Lounge di BNI Sekuritas Cabang Gama Tower , Jakarta, yang didesain menjadi ruang nyaman untuk berbincang mengenai investasi dan pasar modal. Konsep serupa juga hadir di Kantor Cabang BNI Sekuritas Medan melalui area lounge yang lebih luas dan modern. Area ini bisa digunakan untuk kegiatan edukasi seperti live trading , workshop , maupun diskusi antar-investor. Sementara itu, Kantor Cabang BNI Sekuritas Denpasar atau Bali Hub membawa konsep ruang interaksi dan kolaborasi bagi investor ritel dan komunitas pasar modal di Bali. Dengan pendekatan tersebut, kantor cabang tidak hanya menjadi tempat melakukan transaksi, tetapi juga ruang pertemuan tempat investor dapat bertukar pengalaman dan memperdalam pengetahuan mengenai pasar modal. Bukan jalan pintas untuk kaya Robi melihat tantangan terbesar justru datang dari cara pandang sebagian generasi muda terhadap investasi. Banyak mahasiswa, ujarnya, datang dengan ekspektasi memperoleh keuntungan besar dari modal yang sangat kecil. Tak sedikit pula yang terpengaruh narasi media sosial yang hanya menampilkan kisah sukses tanpa memperlihatkan risiko. “Fenomena influencer investasi ada kontribusi meningkatkan minat mahasiswa, tetapi di sisi lain bisa memunculkan ekspektasi yang kurang realistis jika tidak diimbangi edukasi yang benar,” ungkapnya. Oleh karena itu, setiap kali mengedukasi anggota baru, Robi selalu mengingatkan bahwa investasi bukan jalan pintas menuju kekayaan. Sebelum membeli saham, seseorang harus memahami karakter risikonya sendiri, menetapkan batas kerugian, membaca berita ekonomi, mempelajari fundamental perusahaan, serta disiplin menjalankan strategi. “Kalau sudah memutuskan masuk ke pasar modal, harus tahu risikonya dulu,” katanya. Pesan itu berlandaskan pengalaman pribadinya yang pernah sangat bersemangat hingga melakukan lebih dari 30 transaksi dalam sehari hanya demi mengejar keuntungan kecil. Pengalaman ini lalu mengajarinya untuk mengendalikan emosi saat berinvestasi. Kini, tantangan yang dahulu ia berikan kepada dirinya sendiri mulai menunjukkan hasil. Modal awal Rp20.000 saat ini berkembang menjadi Rp500.000. Target-target finansial memang belum semuanya tercapai karena kondisi pasar yang fluktuatif. Namun, bagi Robi, kemampuan untuk terus belajar dan bertahan di pasar menjadi indikator pencapaian yang tak boleh ditepikan. “Bukan melulu soal angka keuntungan. Saya bahkan telah menarik seluruh modal awal dan membiarkan keuntungan yang diperoleh terus berputar sebagai investasi,” akunya. Di tengah meningkatnya jumlah investor muda di Indonesia, kisah Robi menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar modal perlu ditopang oleh ekosistem yang mendorong anak muda belajar, berdiskusi, dan memahami risiko sebelum mengambil keputusan finansial. Sebab, pada akhirnya, investasi tak cuma bersiasat mengejar cuan, melainkan proses membangun kebiasaan berpikir jangka panjang.