bni sekuritas
BNI Sekuritas

Siaran Pers

Belajar Saham, dari Modal Kecil hingga Berpikir Jangka Panjang

detail info

Situasi ekonomi memang sedang tidak pasti, tetapi kemudahan akses terhadap layanan digital memunculkan fenomena menarik di Indonesia. Salah satunya, terlihat dari semakin meningkatnya ketertarikan generasi muda untuk mengenal investasi sebagai bagian dari pengelolaan keuangan sejak dini.

Dari ruang kelas hingga linimasa media sosial, utas mengenai saham, reksa dana, maupun instrumen investasi lainnya semakin banyak dikenal mahasiswa. Tren ini tercermin dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan hingga Agustus 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 17,6 juta Single Investor Identification (SID).

Menariknya, lebih dari 54% di antaranya merupakan investor berusia di bawah 30 tahun. Ini menandakan anak-anak muda kini menjadi motor utama pertumbuhan investor pasar modal nasional. OJK bahkan secara khusus mendorong kelompok usia ini menjadi agen literasi keuangan agar mampu berinvestasi secara bijak sekaligus terhindar dari maraknya penipuan berkedok investasi di media sosial.

Namun, meningkatnya jumlah investor muda tidak selalu seirama dengan kecakapan literasi keuangan. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mengungkap, meskipun tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai 65,43% dan kelompok Generasi Z mencatat indeks literasi yang relatif tinggi, OJK tetap menilai edukasi berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak.

Hal ini terjadi salah satunya karena membludaknya informasi di media sosial yang juga melahirkan fenomena fear of missing out (FOMO), ekspektasi keuntungan instan, hingga munculnya berbagai tawaran investasi yang belum tentu kredibel. Dalam konteks ini, keberadaan Galeri Investasi di kampus-kampus menjadi semakin penting sebagai ruang belajar yang mempertemukan teori, praktik, dan pendampingan bagi calon investor muda.

Realita tersebut terasa nyata di lingkungan kampus. Pasar modal tak lagi dipandang sebagai dunia yang eksklusif bagi pebisnis atau profesional keuangan. Di berbagai perguruan tinggi, Galeri Investasi dan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) mulai menjadi ruang belajar baru bagi mahasiswa yang ingin mengenal investasi secara lebih serius.

Di sinilah kisah Robi'ul Anwarudi, mahasiswa semester lima Universitas Binaniaga Indonesia (Unbin) di Bogor, Jawa Barat, bermula. Ia menjadi potret menarik tentang bagaimana rasa ingin tahu berpadu padan dengan komunitas dan teknologi, sehingga mengubah seorang pemula menjadi penggerak literasi investasi di kampusnya.

Robi tak memulai investasinya dengan modal besar. Nasabah muda dari BNI Sekuritas ini, pun tak memiliki latar belakang keluarga investor. Ketertarikannya pada pasar modal tumbuh saat masih duduk di bangku SMK. Saat itu, ia hanya sebatas mendengar cerita tentang saham tanpa benar-benar memahami cara kerjanya.

Kesempatan baru datang ketika memasuki semester dua perkuliahan. Seorang kawan mengajaknya mencoba berinvestasi. Sebagai langkah awal merambah pasar modal, kampusnya memberi bekal investasi Rp20.000. Namun, saat itu Robi masih diselimuti keraguan.

“Saat itu saya berpikir kalau memang menguntungkan, nanti baru saya tambah. Yang penting mencoba dulu,” kata Robi, Rabu (5/8/2026) di Jakarta.

Modal yang tidak besar itu justru menjadi tantangan pribadi bagi Robi. Robi ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa investasi bukan semata soal besarnya uang yang dimiliki, tetapi juga tentang proses belajar. Hampir setiap malam ia menghabiskan waktu menonton video edukasi mengenai pasar modal di YouTube.

Keesokan harinya, ia langsung mempraktikkan materi yang baru dipelajari, mulai dari membaca laporan fundamental perusahaan hingga memahami pergerakan harga saham. “Belajar sambil praktik,” ujarnya.

Rasa aman terhadap aplikasi

Keberadaan Galeri Investasi di kampusnya menjadi pintu masuk bagi Robi untuk mendalami dunia pasar modal. Keterlibatannya di lingkungan tersebut membawanya bergabung dengan Kelompok Studi Pasar Modal atau KSPM, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Ketua KSPM. Namun, di balik peran tersebut, Robi justru menemukan persoalan yang jauh lebih besar dibanding sekadar mencari keuntungan dari transaksi saham. Menurutnya, minat mahasiswa terhadap investasi sebenarnya sangat tinggi. Hampir setiap kegiatan literasi pasar modal yang diselenggarakan kampus selalu dipadati mahasiswa. Namun, antusiasmetersebut terkadang terhenti oleh rasa ragu dan kebingunan mengenai bagaimana cara memulai investasi. Sebagian mahasiswa khawatir kehilangan uang, sebagian lainnya belum memiliki tempat belajar yang tepat.

“Mereka sebenarnya ingin investasi, tapi belum punya wadah,” ujarnya. Dari situlah Robi lalu menetapkan satu visi sederhana, menjadikan KSPM sebagai ruang belajar bersama, bukan sekadar komunitas yang berisi orang-orang yang sudah mahir berinvestasi.

Perubahan itu terlihat dari perkembangan organisasinya. Saat generasi pertama KSPM hanya beranggotakan belasan mahasiswa, kini jumlah pendaftar terus meningkat. Menurut Robi, banyak mahasiswa datang bukan karena sudah memahami pasar modal, melainkan karena ingin belajar. Mereka yang diterima bukan semata-mata yang paling pintar, tetapi yang menunjukkan rasa ingin tahu paling besar.

Dalam proses pembelajaran tersebut, teknologi memainkan peran penting. Sejak tahun lalu Robi menggunakan aplikasi BIONS by BNI Sekuritas sebagai partner berinvestasi sekaligus media belajar. Salah satu alasan utamanya, rasa aman karena aplikasi tersebut berada di bawah perusahaan sekuritas milik bank.

Platform yang tepercaya, menurut Robi, menjadi faktor penting bagi mahasiswa yang baru pertama kali mengenal investasi. Ketika ditanya apakah data pribadi aman atau proses registrasi rumit, ia dapat menjelaskan dengan lebih percaya diri karena platform yang digunakan memiliki kredibilitas yang jelas.

Bagi Robi, teknologi bukan sekadar memudahkan transaksi. Fitur seperti Automatic Order membantunya berdisiplin dalam trading. Ia terbiasa menetapkan target keuntungan sekitar 2–3 persen, kemudian membiarkan sistem mengeksekusi transaksi secara otomatis tanpa harus terus memantau layar. Kebiasaan ini, menurut dia, melatih agar tidak serakah dan tetap berpegang pada strategi yang telah disusun sejak awal.

Yang tak kalah penting adalah ekosistem belajar yang mengelilinginya. BNI Sekuritas contohnya, menggelar sesi Market Update dan Live Trading. Sementara Bursa Efek Indonesia menyelenggarakan Sekolah Pasar Modal. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa berkumpul di Galeri Investasi untuk mengikuti analisis pasar secara langsung.

Mereka tidak hanya diajak membeli saham, tetapi juga memahami alasan di balik setiap keputusan investasi, mulai dari kapan waktu masuk, kapan mengambil keuntungan, hingga kapan harus membatasi kerugian. Bagi Robi, pendampingan seperti ini jauh lebih berharga daripada sekadar menerima rekomendasi saham.

Upaya membangun ekosistem investasi tidak berhenti di lingkungan kampus. BNI Sekuritas mengembangkan sejumlah ruang yang memungkinkan nasabah ritel dan komunitas pasar modal bertemu, berdiskusi, maupun konsultasi langsung.

Salah satunya, BIONS Lounge di BNI Sekuritas Cabang Gama Tower, Jakarta, yang didesain menjadi ruang nyaman untuk berbincang mengenai investasi dan pasar modal. Konsep serupa juga hadir di Kantor Cabang BNI Sekuritas Medan melalui area lounge yang lebih luas dan modern. Area ini bisa digunakan untuk kegiatan edukasi seperti live trading, workshop, maupun diskusi antar-investor.

Sementara itu, Kantor Cabang BNI Sekuritas Denpasar atau Bali Hub membawa konsep ruang interaksi dan kolaborasi bagi investor ritel dan komunitas pasar modal di Bali.

Dengan pendekatan tersebut, kantor cabang tidak hanya menjadi tempat melakukan transaksi, tetapi juga ruang pertemuan tempat investor dapat bertukar pengalaman dan memperdalam pengetahuan mengenai pasar modal.

Bukan jalan pintas untuk kaya

Robi melihat tantangan terbesar justru datang dari cara pandang sebagian generasi muda terhadap investasi. Banyak mahasiswa, ujarnya, datang dengan ekspektasi memperoleh keuntungan besar dari modal yang sangat kecil. Tak sedikit pula yang terpengaruh narasi media sosial yang hanya menampilkan kisah sukses tanpa memperlihatkan risiko.

“Fenomena influencer investasi ada kontribusi meningkatkan minat mahasiswa, tetapi di sisi lain bisa memunculkan ekspektasi yang kurang realistis jika tidak diimbangi edukasi yang benar,” ungkapnya.

Oleh karena itu, setiap kali mengedukasi anggota baru, Robi selalu mengingatkan bahwa investasi bukan jalan pintas menuju kekayaan. Sebelum membeli saham, seseorang harus memahami karakter risikonya sendiri, menetapkan batas kerugian, membaca berita ekonomi, mempelajari fundamental perusahaan, serta disiplin menjalankan strategi.

“Kalau sudah memutuskan masuk ke pasar modal, harus tahu risikonya dulu,” katanya. Pesan itu berlandaskan pengalaman pribadinya yang pernah sangat bersemangat hingga melakukan lebih dari 30 transaksi dalam sehari hanya demi mengejar keuntungan kecil. Pengalaman ini lalu mengajarinya untuk mengendalikan emosi saat berinvestasi.

Kini, tantangan yang dahulu ia berikan kepada dirinya sendiri mulai menunjukkan hasil. Modal awal Rp20.000 saat ini berkembang menjadi Rp500.000. Target-target finansial memang belum semuanya tercapai karena kondisi pasar yang fluktuatif. Namun, bagi Robi, kemampuan untuk terus belajar dan bertahan di pasar menjadi indikator pencapaian yang tak boleh ditepikan.

“Bukan melulu soal angka keuntungan. Saya bahkan telah menarik seluruh modal awal dan membiarkan keuntungan yang diperoleh terus berputar sebagai investasi,” akunya.

Di tengah meningkatnya jumlah investor muda di Indonesia, kisah Robi menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar modal perlu ditopang oleh ekosistem yang mendorong anak muda belajar, berdiskusi, dan memahami risiko sebelum mengambil keputusan finansial. Sebab, pada akhirnya, investasi tak cuma bersiasat mengejar cuan, melainkan proses membangun kebiasaan berpikir jangka panjang.

Informasi Lainnya

BNI Sekuritas Raih Tiga Penghargaan dari The Asset Triple A Islamic Finance Awards 2026
Siaran Pers

BNI Sekuritas Raih Tiga Penghargaan dari The Asset Triple A Islamic Finance Awards 2026

Jakarta, 10 September 2026 – PT BNI Sekuritas menyabet tiga penghargaan sekaligus dalam ajang The Asset Triple A Islamic Finance Awards 2026 yang digelar oleh The Asset. Ketiga penghargaan tersebut adalah Best Sustainability Sukuk untuk transaksi Sukuk Mudharabah Belandaskan Keberlanjutan Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 (Sustainability Sukuk) oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) senilai Rp5 triliun, Best Sukuk - SME untuk transaksi Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Tahap IV Tahun 2025 (Sukuk Mudharabah) oleh PT Pegadaian senilai Rp1,75 triliun, serta Best Sukuk - Quasi-Sovereign untuk transaksi Sukuk Mudharabah PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) senilai Rp2,5 triliun. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas peran BNI Sekuritas dalam mengeksekusi sejumlah transaksi sukuk korporasi berskala besar di Indonesia sepanjang tahun 2025, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu underwriter terkemuka di pasar pembiayaan syariah domestik. Sementara itu, Triple A Islamic Finance Awards merupakan ajang penghargaan tahunan yang diselenggarakan The Asset, lembaga media dan riset keuangan terkemuka di Asia yang berbasis di Hong Kong, untuk mengapresiasi institusi keuangan dan pelaku pasar modal syariah atas inovasi dan kinerja terbaik mereka dalam penerbitan sukuk, baik dari sisi korporasi, perbankan, maupun sektor UMKM. Ikhsan Ramdan selaku SEVP Investment Banking BNI Sekuritas menyampaikan, "Penghargaan ini menjadi bukti komitmen kami dalam menghadirkan solusi pembiayaan syariah yang inovatif dan relevan bagi kebutuhan korporasi Indonesia." Pemberian penghargaan ini diterima langsung oleh SEVP Investment Banking BNI Sekuritas, Ikhsan Ramdan dan VP Investment Banking Capital Market BNI Sekuritas, Stefan Utomo Kaharmen dalam seremoni Triple A Islamic Finance Awards 2026 di Malaysia, Kamis (27/8). Ikhsan mengatakan, pencapaian ini tidak lepas dari peran BNI Sekuritas dalam mengawal sejumlah transaksi landmark sepanjang 2025. Salah satunya adalah penerbitan Sukuk Mudharabah SMI senilai Rp2,5 triliun, yang merupakan bagian dari total penerbitan obligasi dan sukuk SMI sebesar Rp6,5 triliun sekaligus menjadi salah satu penerbitan surat berharga korporasi rupiah terbesar di pasar modal Indonesia pada tahun 2025. Selain itu, BNI Sekuritas juga berperan dalam penerbitan Sustainability Sukuk oleh BSI senilai Rp5 triliun, yang merupakan penerbitan lanjutan dari program sukuk berlandaskan keberlanjutan berkelanjutan pertama di Indonesia. Dana hasil penerbitan digunakan untuk mendukung pembiayaan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan dan sosial, sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). "Ke depan, kami akan terus memperkuat peran BNI Sekuritas dalam mendukung pengembangan pasar modal syariah di Indonesia, termasuk memperluas basis investor dan mendorong inovasi struktur pembiayaan yang sesuai kebutuhan korporasi maupun sektor UMKM," ujar Ikhsan. Pencapaian ini semakin mempertegas posisi BNI Sekuritas sebagai salah satu pemain utama di pasar sukuk korporasi Indonesia, sekaligus memperkuat komitmen perseroan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi syariah dan keuangan berkelanjutan di Tanah Air. ###SELESAI###

SR025 Resmi Ditawarkan, Kini Bisa Dibeli Melalui BNI Sekuritas
Siaran Pers

SR025 Resmi Ditawarkan, Kini Bisa Dibeli Melalui BNI Sekuritas

Jakarta, 1 September 2026 - Instrumen investasi syariah Sukuk Negara Ritel (Sukuk Ritel) seri SR025 kembali ditawarkan kepada masyarakat yang kini bisa dibeli melalui aplikasi New BIONS by BNI Sekuritas (BNI Sekuritas/Perusahaan) sebagai salah satu mitra distribusi resmi. Masa penawaran SR025 berlangsung mulai 21 Agustus hingga 16 September 2026. Investor dapat memilih dua pilihan tenor, yaitu SR025-T3 dengan jangka waktu tiga tahun dan SR025-T5 dengan jangka waktu lima tahun. Pemerintah menetapkan kupon tetap (fixed rate) sebesar 6.80% per tahun untuk SR025-T3 dan 6.90% per tahun untuk SR025-T5. Imbal hasil dibayarkan setiap bulan, dengan pembayaran kupon pertama dijadwalkan pada 10 Oktober 2026 dan selanjutnya rutin setiap tanggal 10 hingga jatuh tempo. SR025-T3 akan jatuh tempo pada 10 September 2029, sementara SR025-T5 jatuh tempo pada 10 September 2031. Head of Retail Brokerage BNI Sekuritas, Rohma Fitri Murniawati mengatakan, "Kehadiran SR025 menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berinvestasi di instrumen yang aman, terjangkau, dan sesuai prinsip syariah, sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan nasional." Fitri menjelaskan, SR025 dikelola dengan akad Ijarah dan telah memperoleh fatwa halal dari Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Pokok investasi dan imbal hasilnya dijamin penuh oleh negara melalui undang-undang, sehingga risiko gagal bayar sangat minim. Minimum pemesanan SR025 ditetapkan sebesar Rp1 juta, terjangkau bagi investor individu yang baru memulai investasi. Instrumen ini juga bersifat tradable, atau dapat diperjualbelikan di pasar sekunder setelah melewati masa minimum kepemilikan, yakni mulai 11 Oktober 2026. "Sebagai mitra distribusi SR025, BNI Sekuritas menegaskan komitmennya untuk memperluas basis investor ritel di pasar surat berharga syariah negara, sekaligus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia," ujar Fitri. Penerbitan SR025 merupakan bagian dari rangkaian penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel yang ditargetkan pemerintah mencapai Rp150 triliun hingga Rp170 triliun sepanjang 2026. Sebelumnya, seri SR024 berhasil membukukan realisasi penjualan sebesar Rp17,48 triliun, melampaui target awal Rp15 triliun. Pembelian SR025 dapat dilakukan dalam empat langkah sederhana: buka aplikasi New BIONS, pilih produk Pendapatan Tetap/Fixed Income, lalu pilih SBN, tap IPO, lalu pilih penawaran SR025 yang sedang berlangsung. Jika Anda belum memiliki akun SBN di New BIONS, Anda dapat melakukan registrasi akun SBN terlebih dahulu. Informasi lengkap seputar SR025 dapat Anda akses melalui sbn.bions.id.

BNI Sekuritas Ajak Masyarakat Belajar Investasi di BNI WondrX 2026
Siaran Pers

BNI Sekuritas Ajak Masyarakat Belajar Investasi di BNI WondrX 2026

Tangerang, 22 Agustus 2026 – PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas/Perusahaan) kembali berpartisipasi dalam BNI WondrX 2026 yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, pada 21–23 Agustus 2026, sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-80 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) selaku induk perusahaan. Keikutsertaan BNI Sekuritas dalam BNI WondrX 2026 merupakan wujud dukungan Perusahaan terhadap upaya BNI memperkuat ekosistem keuangan BNI Group, melalui berbagai aktivitas yang mendorong pertumbuhan transaksi, memperluas akses layanan keuangan, serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Head of Retail Brokerage BNI Sekuritas, Rohma Fitri Murniawati mengatakan, “Melalui booth dan financial talkshow BNI Sekuritas, pengunjung dapat mengenal lebih dekat aplikasi investasi BIONS by BNI Sekuritas, memperoleh berbagai promo eksklusif selama penyelenggaraan WondrX 2026, serta mengikuti edukasi pasar modal yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai investasi yang aman, mudah, dan sesuai dengan kebutuhan finansial masing-masing.” Pada kesempatan ini, BNI Sekuritas turut menyelenggarakan financial talkshow bersama Theo Derick, seorang investor, entrepreneur, creator, dan author, pada Sabtu (22/8) di Main Stage BNI WondrX, ICE BSD, mengusung tema “From Zero to Portfolio: Membangun Kebiasaan Investasi di Tengah Ekonomi yang Menantang.” Dalam sesi tersebut, Theo Derick membagikan pandangannya mengenai langkah awal yang perlu dipahami investor pemula sebelum menentukan instrumen investasi. “Yang paling pertama harus jelas justru tujuan investasinya, bukan instrumennya. Tujuan ini yang nanti menentukan jangka waktu, misalnya untuk dana darurat, biaya nikah, atau pensiun, jangka waktunya beda-beda. Dari situ baru kelihatan seberapa besar risiko yang realistis untuk diambil. Kalau urutannya dibalik, langsung loncat ke instrumen, banyak orang akhirnya ikut-ikutan tren padahal tidak cocok sama kondisi keuangannya sendiri,” ujar Theo. Momentum edukasi ini sejalan dengan pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia yang terus meningkat. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal mencapai 30,30 juta Single Investor Identification (SID) per 7 Agustus 2026, meningkat 9,9 juta investor secara year-to-date dibandingkan posisi akhir 2025. Pertumbuhan ini menegaskan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat dapat mengambil keputusan investasi yang terukur dan sesuai dengan profil risikonya. Menutup keterangannya, Fitri menegaskan komitmen BNI Sekuritas untuk terus mendampingi masyarakat dalam berinvestasi. “Kami ingin selalu hadir sebagai mitra investasi yang kredibel, mudah diakses, dan relevan bagi generasi muda, sehingga semakin banyak masyarakat yang percaya diri untuk memulai dan mengembangkan portofolio investasinya bersama kami,” tutup Fitri.